Notice: WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/u1116145/public_html/kabarsangmentari.com/wp-includes/functions.php on line 5663

Strategi Dakwah Kreatif di Masa Pandemi

Kabar Sang Mentari – Islam merupakan agama yang identik dengan dakwah. Sejak zaman Rasulullah saw. dakwah sudah biasa dilakukan. Melalui dakwah, seseorang dapat menyampaikan pesan agama Islam yang nantinya akan berdampak kepada seseorang atau sekelompok orang dalam memahami ilmu agama Islam.

Hal ini seperti yang sudah dijelaskan oleh Nasarudin Latif. Beliau mengatakan bahwa dakwah adalah setiap usaha aktivitas dengan lisan maupun tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah Swt. sesuai dengan garis-garis akidah dan syariat serta akhlak islamiyah.

Ada yang berpendapat bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap umat muslim (fardu ain), tetapi ada juga yang berpendapat bahwa dakwah hukumnya kewajiban kolektif (fardu kifayah). Kewajiban dakwah berdasarkan pada surat Ali Imran ayat 104 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kepada yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah suatu anjuran bagi umat Islam untuk melakukannya dan dengan adanya dakwah setiap orang dapat mengetahui mana perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan atau diperbolehkan dalam Islam (makruf) dan mana perbuatan-perbuatan yang dilarang di dalam Islam (munkar).

Dakwah tidak harus selalu dilakukan oleh seorang dai, mubalig, atau mubaligah saja, tetapi setiap muslim pada umumnya juga dapat menyampaikan dakwah. Hal ini tentu disesuaikan dengan konten (materi) dakwah yang diselaraskan dengan kemampuan dan sasaran jemaah sebagai penerima pesan dakwah tersebut (mungkin hanya sebatas anggota keluarga atau lebih luas daripada itu).

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum Himpunan Dai Muda Indonesia, Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri, Lc., “Bahwasannya pada dasarnya setiap muslim adalah dai. Apapun profesinya, sejatinya Allah memerintahkan setiap muslim untuk menyeru kepada kebaikan.”

Seorang pendakwah dalam melakukan misi dakwahnya tidak selalu berjalan mulus, lancar, dan tanpa hambatan. Tidak setiap orang menerima pesan dakwah yang disampaikan. Ada saja orang yang mengabaikan, bahkan ada yang sampai terang-terangan menolak dakwah yang seorang pendakwah lakukan.

Oleh karena itu, kita sebagai orang yang menyampaikan dakwah harus memiliki strategi khusus agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh khalayak umum.

Ada metode dakwah yang biasa digunakan, di antaranya yaitu sebagai berikut. Pertama, dakwah melalui lisan yakni melalui ceramah. Kedua, dakwah melalui perbuatan yakni agar orang meniru apa yang pendakwah lakukan disamping tentu saja ada pesan yang disampaikan melalui lisan untuk memberikan arahan atau penjelasan. Ketiga, dakwah melalui tulisan seperti menyampaikan dakwah melalui buku, majalah, atau koran. Ketiga metode dakwah tersebut seringkali digunakan pendakwah.

Akan tetapi, melihat situasi seperti sekarang ini di mana pandemi covid-19 sedang melanda negeri, banyak aktivitas dakwah terhambat. Seperti kegiatan pengajian, tablig akbar, seminar dakwah, dan acara-acara bertajuk dakwah lain yang mengharuskan mengumpulkan banyak orang yang tidak dapat lagi dilakukan karena khawatir penyebaran virus covid-19 akan semakin meluas. Apalagi saat pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada tahun 2020 dan memberlakukan PPKM pada tanggal 7-13 September 2021 yang kemudian diperpanjang pada tanggal 21 September – 4 Oktober 2021.

Walaupun demikian, hal ini tidak seharusnya dijadikan alasan oleh orang-orang untuk tidak melakukan dakwah, karena berdakwah merupakan kegiatan yang fleksibel yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Memang perlu kita akui bahwasannya dengan adanya pandemi ini menuntut para pendakwah harus lebih berpikir kreatif. Banyak media yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah jika kita mau menggunakannya. Diantaranya yaitu media sosial seperti whatsApp, instagram, facebook atau media lainnya yang lebih modern seperti google meet, zoom meeting, ataupun youtube.

Ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan dalam berdakwah secara daring. Pertama, pendakwah harus memiliki pengetahuan luas. Seorang pendakwah harus memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni terkait materi dakwah yang disampaikan. Pesan yang disampaikan harus dilandasi dengan sumber yang jelas.

Selain itu, pendakwah juga harus mau membuka diri karena sejatinya pengetahuan tidak didapat hanya dari satu sumber saja. Jadi wajib hukumnya seorang pendakwah memiliki pengetahuan luas agar tidak salah dalam menanggapi sebuah argumen sosial yang disampaikan oleh warganet atau netizen. Kedua, seorang pendakwah harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Kita sekarang hidup di zaman yang semua serba teknologi, apalagi dimasa pandemi teknologi merupakan salah satu jalan alternatif kita untuk bisa tetap aktif melakukan dakwah dengan mengoprasikan media sosial yang ada.

Sebagai pendakwah, kita dituntut untuk bersikap kreatif agar dakwah kita bisa dilihat oleh orang lain. Misalnya dengan sajian animasi visual yang menarik, pengambilan video atau gambar yang tapat, audio yang nyaman didengar, atau efek-efek lain yang dapat menambah ketertarikan orang untuk melihat atau membaca pesan dakwah kita. Hal ini karena pada zaman sekarang banyak sekali konten yang menarik untuk ditonton. Jangan sampai orang lain malah tertarik untuk melihat atau membaca konten yang sebenarnya tidak ada nilai kebermanfaatan. Keempat, pendakwah harus menyampaikan kebenaran.

Pada akhir-akhir ini banyak sekali kita temui orang yang mengatasnamakan dakwah padahal apa yang ia sampaikan itu hanya kebohongan belaka yang akan berdampak kepada perpecahan Islam dan kesesatan. Dakwah bukanlah hal main-main karena dakwah itu menyangkut pesan agama yang akan menentukan bagaimana amaliah seseorang.

Apa yang kita sampaikan nantinya akan berpengaruh terhadap pemahaman seseorang terhadap sesuatu hal dan tentunya apa yang kita sampaikan nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Mari kita niatkan semuanya karena mencari rida Allah Swt semata.

Akhirnya, semoga pandemi covid-19 ini bisa segera berakhir dan para pendakwah pun bisa kembali melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Bagi umat muslim yang merasa ilmu pengetahuan agamanya masih belum baik, semoga diberi kemudahan dalam mencari ilmu. Mudah-mudahan semuanya mendapatkan rida dari Allah Swt. Amin ya Robbalalamin.

Nadia Fitriana Rosyidah
Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang