Notice: WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/u1116145/public_html/kabarsangmentari.com/wp-includes/functions.php on line 5663

Pembelajaran Akan Segera Offline

Kabar Sang Mentari | Amelia Canita Silitonga, Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang – Pandemi Covid-19 telah berlangsung sejak awal tahun 2020 lalu. Beragam upaya telah dilakukan Pemerintah dalam mencegah penyebaran virus ini. Beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah antara lain Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan dibeberapa daerah seperti DKI Jakarta mulai 10 april 2020 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ditetapkan di Jawa-Bali mulai 03 Juli 2021.

Pandemi ini memang benar-benar mengubah tatanan kehidupan masyarakat, di mana aspek kehidupan masyarakat berubah secara drastis. Salah satunya yang terdampak adalah dunia pendidikan.

Sudah setahun lebih penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM) diterapkan berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia secara online atau daring. KBM daring adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di dalam jaringan (daring) internet atau kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar kelas tatap muka langsung. Pada KBM daring, pengajar dan peserta didik tidak bertemu secara langsung selama proses pembelajaran.

Beberapa bulan yang lalu pemerintah telah membuka pembelajaran tatap muka secara terbatas yaitu pada bulan Juli 2021. Hal tersebut menyusul diterbitkannya surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Kegiatan tatap muka atau offline nantinya dilakukan secara terbatas yakni hanya 50 persen dari jumlah siswa kelas. Menurut Nadime, sekolah dapat memecah kelompok belajar yang melaksanakan tatap muka hingga tiga kelompok. Kemudian pelaksanaan kegiatan tatap muka sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Misalnya melaksanakan kegiatan tatap muka dua kali seminggu atau tiga kali seminggu.

Waktu pembelajaran juga tidak digelar secara keseluruhan melainkan hanya 3 jam mulai pukul 7.00 hingga 10.00. Hal ini untuk memenuhi kuota 50 persen peserta didik yang tidak hadir di sekolah tatap muka. “Jadi orangtua atau wali murid boleh memilih, berhak dan bebas memilih bagi anaknya apakah mau tatap muka (offline) terbatas atau tetap PJJ,” ujar Nadiem dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (30/3/2021).

Lebih lanjut Nadiem menjelaskan, setiap satuan pendidikan yang akan membuka pembelajaran tatap muka terbatas wajib memenuhi daftar periksa protokol kesehatan yang ditetapkan kemenkes. Daftar periksa tesebut sudah diberikan ke semua sekolah sejak zona hijau dan kuning diizinkan membuka sekolah.

Jika saat kegiatan tersebut ditemukan kasus Covid-19 maka pembelajaran tatap muka atau offline di sekolah dihentikan sementara. “Jadi kalau ada infeksi harus segera ditutup sekolahnya untuk sementara. Sementara itu, kalau daerah sedang PPKM dalam skala mikro itu juga boleh dihentikan sementara,” ujar Nadiem

Berdasarkan keterangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, setidaknya ada dua alasan mengapa kebijakan pembelajaran tatap muka secara terbatas dilakukan. Pertama adalah vaksinasi para pendidik dan tenaga pendidik. Kedua adalah mencegah lost of learning karena kondisi pendidikan di Indonesia sudah tertinggal dari negara lain selama pandemi ini.

Nadiem mengatakan, sejak Juli 2020 telah ada SKB 4 Menteri tentang pembelajaran tatap muka yang diperbolehkan di wilayah zona hijau dan kuning Covid-19. “Tapi kenyataannya realita di lapangan, hanya sekitar 22 persen dari total sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka,” kata Nadiem di acara Pengumuman Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduang Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, Selasa (30/3/2021). “Jadi kami sekali lagi imbau apalagi buat daerah-daerah yang sangat sulit sinyal, sulit pembelajaran jarak jauh (PJJ), sulit tidak punya gawai, ini tanggung jawab setiap pemda pastikan tatap muka terjadi untuk anak-anak yang paling sulit melaksanakan PJJ,” lanjut Nadiem.

Namun karena masih kurang, kata dia, maka pemerintah pusat pun mendorong lebih jauh lagi dengan menerbitkan SKB 4 Menteri agar kegiatan pembelajaran tatap muka digelar pada Juli 2021.

Salah satu kekhawatiran jika pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus dilakukan yakni terjadinya learning loss di kalangan siswa. Learning loss adalah menurunnya kompetensi belajar siswa. Contoh nyata learning loss ini dapat dilihat pada kemampuan anak membaca dan berhitung akan berkurang signifikan.

Penyesuaian kurikulum penting disiapkan saat sekolah kembali dibuka. Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Muhamad Hasbi mengajak para pelaku dan pegiat pendidikan agar menjadi pelopor untuk mencegah learning loss.

Menurut Hasbi, learning loss memiliki dampak yang sangat besar bukan hanya terhadap peserta didik. Tetapi juga bagi nasib dan majunya bangsa Indonesia. Jika learning loss terus terjadi dan tidak segera diatasi, maka dalam waktu kurang lebih 15 tahun lagi bangsa ini akan mengalami kehilangan generasi penerus yang berkualitas. Oleh sebab itu pemerintah memutuskan untuk melaksankan pembelajaran secara offline.

Pembelajaran tatap muka sangat penting dilakukan karena hal-hal berikut ini. Pertama, interaksi dan komunikasi lebih mudah. Selama KBM daring diakui komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid maupun antara sesama murid menjadi terhambat dan tidak berjalan dengan optimal. Hal ini tentu karena saat KBM daring berlangsung proses komunikasi hanya terjalin melalui video call atau chat saja.

Tentu saja ini dapat menghilangkan kedekatan dan proses komunikasi alami antara guru dan murid, terutama berkaitan dengan proses penyampaian materi. Kedua, sumber dan media pembelajaran lebih familiar. Salah satu Kendala utama yang dihadapi guru maupun murid selama menjalani PJJ adalah berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber maupun media pembelajaran daring.

Sumber belajar daring sejauh ini belum begitu familiar dan mudah dipahami oleh para guru juga para murid terutama yang berada di wilayah 3T. Ketiga, mudah dalam penilaian karakter. Dalam pembelajaran tatap muka guru atau dosen lebih mudah untuk menilai karakter dari siswa.

Guru dapat melihat dengan jelas bagaimana sikap, sifat, dan perilaku siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Keempat, lebih fokus. Dalam pembelajaran tatap muka para siswa dapat lebih fokus dalam mendengarkan pembelajaran dan siswa juga lebih cepat menangkap dan memahami apa saja yang diajarkan oleh bapak ibu guru.

Itulah beberapa keunggulan pembelajaran tatap muka secara langsung. Semoga pandemi cepat berakhir dan masyarakat dapat kembali beraktifikas seperti dulu. Sekolah dapat dibuka lagi sehingga para siswa ataupun mahasiswa dapat melakukan pembelajaran secara secara offline.