Notice: WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/u1116145/public_html/kabarsangmentari.com/wp-includes/functions.php on line 5663

Memperkuat Nilai-nilai Pancasila pada Generasi Milenial

Kabar Sang Mentari | Fine Cahyani, Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang – Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 dijadikan dasar negara dan Ideologi bangsa Indonesia. Selain menjadi ideologi dasar, Pancasila juga menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia dimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dijadikan petunjuk masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, tindakan masyarakat Indonesia tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.

Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup maksudnya, Pancasila mampu menjadi solusi dalam sebuah permasalahan. Pancasila memiliki ideologi yang terbuka dan mampu dijadikan sumber ketika konflik mulai bermunculan.

Pancasila mampu memperkuat dan menyatukan masyarakat ditengah perbedaan yang ada. Keberagaman ras, suku, bangsa dan budaya yang ada di Indonesia mampu disatukan dengan Pancasila. Oleh karena itu, Pancasila juga disebut sebagai alat pemersatu bangsa.

Selain mampu membangun toleransi yang kuat antar perbedaan, Pancasila juga membangun karakter positif bagi bangsa. Proses untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat adalah yang paling berat, mengingat terus berkembangnya zaman membuat sifat individualisme dan nilai moral yang semakin tertinggalkan.

Penting adanya menyadarkan masyarakat akan nilai-nilai Pancasila, agar negara lebih terarah dan tercipta kedamaian, kebersamaan serta tidak ada orang yang hanya mementingkan golongan saja. Bukan hanya kesadaran masyarakat saja yang penting, tetapi juga kesadaran pemerintah.

Tentang bagaimana pemerintah tidak boleh membeda-bedakan hukum yang diterima oleh rakyat biasa dengan para pejabat. Semua harus disamakan agar tercipta keadilan bagi seluruh rakya Indonesia.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat lunturnya nilai-nilai Pancasila di Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dampak dari globalisasi yang tidak dapat kita hindari.

Karena berkembangnya zaman, maka kepribadian masyarakat juga ikut berubah. Disamping karena semakin canggihnya teknologi, lemahnya keinginan masyarakat untuk mempertahankan budayanya adalah salah satu sebab lain lunturnya nilai-nilai Pancasila. Menganggap budaya tradisional adalah kebudayaan yang ketinggalan zaman dan kuno membuat budaya Indonesia sedikit demi sedikit menghilang tergantikan oleh budaya modern.

Kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia telah meracuni pikiran mayoritas anak muda yang menjadi kunci kesuksesan negara. Mulai dari tingkah laku yang sopan, keramahan, dan kebiasaan gotong royong kini lenyap karena dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemudahan mengakses informasi di dunia internet juga membuat masyarakat mudah terprovokasi pada hal-hal yang belum pasti adanya. Kabar bohong yang merajalela mempermudah masyarakat mudah dihasut, kemudian muncul perdebatan, permusuhan sampai perpecahan.

Menjaga Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia adalah kepentingan bersama. Karena kini muncul zaman milenial, maka diperlukan upaya-upaya baru untuk menjaga Pancasila agar tidak tertinggal dari budaya-budaya asing. Berikut upaya-upaya yang perlu kita lakukan untuk menjaga nilai-nilai Pancasila pada zaman milenial.

  1. Memperkenalkan Pancasila melalui media massa. Karena kemajuan teknologi yang terus berkembang, maka menggunakan media massa sebagai upaya untuk mengenalkan Pancasila adalah hal yang paling efektif. Pertama, kita bisa membuat artikel atau postingan-postingan pada media sosial seperti pada Instagram, Tweeter,dan Youtube. Postingan yang dibagikan seputar pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai identitas bangsa. Selain itu, metode yang dilakukan adalah dengan tidak ada paksaan atau dengan fleksibelitas, mengingat anak-anak zaman sekarang yang terus mengikuti tren-tren terbaru. Maka, metode yang digunakan pun harus menyesuaikan. Memperkenalkan Pancasila melalui media massa yang kedua adalah dengan menggunakan tokoh-tokoh publik yang digemari anak muda sekarang. Sebagai contoh, tokoh Jerome Pollin. Jerome Pollin adalah mahasiswa S1 di Jepang yang sukses pada dunia bisnis makanan dan memiliki sebuah channel youtube dengan banyak subscriber. Apabila, tokoh seperti ini mampu meyakinkan anak zaman sekarang tentang pentingnya Pancasila pada kehidupan zaman modern, tentu akan memberikan pengaruh kepada anak muda zaman sekarang.
  2. Menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam bertindak dan memanfaatkan teknologi. Hal ini maksudnya adalah kita perlu menyaring informasi-informasi yang kita dapat melalui media massa, kemudian bersikap bijak dan tidak gegabah. Masuknya budaya-budaya asing ke Indonesia mungkin mampu merubah budaya lokal yang dimiliki bangsa Indonesia. Namun, akan berbeda apabila kita sebagai bangsa Indonesia mampu menjadikan Pancasila sebagai filter dalam menerima budaya asing untuk membedakan hal yang pantas untuk dilakukan dan hal yang tidak pantas sehingga harus kita tinggalkan. Dengan demikian, dampak negatif berkembangnya teknologi yang merusak Pancasila mampu diminimalisir menggunakan nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
  3. Mempertahankan Pancasila melalui sebuah penyuluhan/sosialisasi. Meskipun sekarang jarang orang yang tertarik pada sebuah penyuluhan, namun menjamurnya organisasi-organisasi pada masyarakat tidak dapat kita tepis. Melalui organisasi-organisasi inilah, nilai-nilai Pancasila kita sebarluaskan kembali, sekaligus kita terapkan dalam organisasi tersebut.
  4. Menolak secara tegas paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila. Mudahnya akses keluar masuk informasi pada dunia maya, sekaligus menyebabkan mudahnya penghasutan yang mempengaruhi orang-orang agar menerapkan paham baru tanpa kita sadari, yang kemudian mengajak pada kesesatan dan perpecahan untuk menghancurkan Ideologi negara. Maka dari itu, inilah pentingnya kesadaran akan menjaga nilai-nilai Pancasila agar tidak mudah dihasut oleh siapapun.

Implementasi nilai-nilai Pancasila pada era globalisasi wajib dilakukan untuk mencegah rusaknya moral generasi milenial. Menerapkan nilai-nilai Pancasila pada kehidupan sehari-hari seperti menumbuhkan sikap toleransi antar sesama, menjalankan kewajiban kepada Tuhan Yang Maha Esa serta meninggalkan larangan-Nya, mengikuti pemilihan umum sebagai warga negara Indonesia, dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan derajat kekayaannya semua hal tersebut merupakan contoh implementasi Pancasila.

Selain itu, karena zaman sekarang semua orang hampir mengenal handphone, maka kita wajib mengambil hal-hal positif melalui handphone yang kita miliki. Menggunakannya untuk hal-hal positif yang dimaksud adalah untuk menambah wawasan pengetahuan dalam pembelajaran seperti mencari informasi-informasi yang bermanfaat untuk kebaikan, menjadikannya sebagai sarana jual beli yang menguntungkan, dan sebagainya. Implementasi Pancasila kini lebih fleksibel mengingat berkembangnya zaman yang tidak bisa kita hentikan. Oleh karena itu, kita harus terus mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal dengan bangsa lain.

Kesimpulannya kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh melupakan Pancasila sebagai buah dari kerja keras para pahlawan yang telah gugur. Kita juga harus menyeimbangkan antara perkembangan zaman dengan implementasi pancasila yang wajib kita lakukan sebagai bangsa Indonesia. Semoga kita bisa terus menjaga nilai-nilai Pancasila agar bangsa Indonesia tercipta kedamaian dan keharmonisan.a